PKS NEWS UPDATE:
« »

Jumat, 23 Desember 2011

Reses Aleg DPRD Prov Jabar, Ust.Tate Qomarudin,Lc

Kamis,22 Desember 2011 tepat pukul 19.30, Ust.Tate Qomarudin,Lc salah satu Aleg DPRD Prov. Jabar dari PKS dapil Kota Bandung - Cimahi bersama perwakilan masyarakat dari Kecamatan Panyileukan,Cibiru dan sekitarnya bersama mengikuti kegiatan reses.


Pada kegiatan reses ini, turut juga Ust. Budi Heryana Aleg DPRD Kota Bandung mendampingi Ust.Tate Qomarudin,Lc. Acara yang dihadiri lebih dari 50 tamu undangan lebih ini berlangsung dengan suasana kekeluargaan yang hangat. Pemaparan program - program, visi misi dan sosialisasi tugas - tugas Aleg disampaikan.


Kegiatan ini pun selain sebagai ajang untuk sosialisasi juga sebagai kegiatan untuk menjaring aspirasi masyarakat. Karena ketika sudah menjadi pejabat publik para aleg PKS adalah milik masyarakat, para aleg harus tetap menjaring aspirasi baik dari masyarakat yang dahulu mendukung ataupun tidak.

Kamis, 22 Desember 2011

Ibu, Mahluk Penuh Cinta


Islamedia: Ibu adalah makhluk yang diciptakan dengan penuh cinta. Menyambut hari ibu, artikel ini dipersembahkan untuk semua ibu di seluruh bumi ini.

Allah Maha Penyayang. Sudah paham kita bahwa kata ‘maha’ pada sifat Allah itu telah menunjukkan bahwa Allah swt tiada tandingannya dalam sifat itu. Tapi tetap saja Rasulullah memperbandingkan sifat kasih sayang Allah dengan sifat kasih sayang makhluk – untuk memberi pemahaman kepada umat bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar dari kasih sayang yang diperbandingkan. Tentu kasih sayang makhluk yang diperbandingkan itu bukanlah kasih sayang yang sepele. Kalau kita ingin memberi pemahaman pada anak kita yang masih kecil sebesar apa ikan paus itu, tentu kita tidak akan memperbandingkan dengan ikan cupang, tapi kita akan katakan “tahu sebesar apa ikan hiu atau lumba-lumba? Ikan paus jauh lebih besar.”

Umar bin Khatab pernah menceritakan pengalamannya setelah melewati suatu peperangan. “Didatangkan beberapa tawanan ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba ada di antara para tawanan seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. (tampaknya ia kebingungan mencari anaknya). Setiap ia dapati anak kecil di antara tawanan itu, ia ambil dan kemudian ia dekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabat, “Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami pun menjawab, “Tidak. Bahkan dia tak akan kuasa untuk melemparkan anaknya ke dalam api.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.” (Muttafaq Alaih)

Perbandingan itu membuat saya memahami bahwa begitu besar cinta Allah kepada makhluk-Nya mengalahkan setiap bentuk kasih sayang yang lain, sekaligus membuat saya tersadar begitu besarnya cinta seorang ibu sampai-sampai dijadikan perbandingan untuk cinta yang maha dahsyat milik Allah swt.


Sebuah Berita Memulai Cerita Cinta

Test Pack, Ultrasanografi (USG), atau apa pun medianya telah memulai perjalanan kisah cinta yang agung. Tidak malu-malu air mata menghias di kerling mata seorang calon ibu ketika mendapat berita hadirnya buah hati yang menyatu pada jasadnya. Bukan simbiosis mutalisme, apalagi parasitisme, tapi jalinan hubungan yang dijalani oleh organisme yang memakan makanan induk semangnya pada jasad seorang wanita merupakan simbiosis cintaisme. Simbiosis yang sangat-sangat ditunggu oleh seorang wanita.

Setelah hadirnya kabar itu, seorang wanita akan menemukan cinta di sekelilingnya, di setiap harinya.

Morning Sickness dan Semua Kepayahan

Jasadnya saja yang menderita morning sickness, tapi hatinya along day hapiness. Rasa mual memang mengganggu, tapi tak menjadi beban pikiran. Dan setiap kepayahan yang terasakan, tak mampu mempengaruhi hari-hari bahagia seorang wanita. Ada cinta baru, kebahagiaan, dan rasa syukur kepada Allah swt yang berkekuatan dahsyat mendominasi kesadaran wanita tanpa ada yang bisa mengkudetanya.

Siapa yang bilang kalau cinta itu pasti selalu mudah dan menyenangkan?


Ekspresi yang Tak Rasional

Seorang pria dengan pikiran rasionalnya mempertanyakan kebiasaan seorang wanita mengandung yang rajin mengelus perut dan berbicara pada janinnya. “Sia-sia. Bagaimana mungkin jasad itu mengerti apa yang kau lakukan dan apa yang kau katakan?” Wanita itu menjawab, “Ah, tahu apa kamu tentang cinta ini. Apakah kau percaya ada energi hangat yang jatuh dari matahari ke bumi? Kau melihatnya? Kalau kau tak melihatnya tapi percaya, maka lebih masuk akal lagi bahasa cinta ini. Tapi kemampuan rasional mu terbatas, wahai pria…”

Perbincangan wanita pada janinnya itu monolog. Indoktrinasi cinta dari seorang calon ibu pada anaknya.

Dan Wujud Cinta itu pun Terlihat Nyata

Yang mencintai merasakan perih, yang dicintai menangis keras. Ada pertengkaran kah? Justru puncak kebahagiaan baru saja hadir. Rasa geregetan selama sembilan bulan untuk segera melihat buah hati tuntas sudah. Cinta bergemuruh di dada seorang ibu. Kalau selama ini usapan cinta terhalang oleh perut, kini cinta itu bisa ditransfer langsung di dekat jantung seorang ibu. Jantung yang tiap hari denyutnya digerakkan oleh cinta.

Seorang ibu mengerti, bila bayi menangis di tengah malam adalah karena ia rindu mendengar detak jantung si ibu. Selama sembilan bulan sebelumnya si bayi tak pernah alpa sehari pun mendengar denyut jantung si ibu, kini setelah lahir si bayi merasa kehilangan denyut cinta itu. Karenanya, kapan pun ia merasa rindu, si bayi mengeak keras.

Dan waktu terus berjalan, sang anak tumbuh besar. Tapi cerita cinta si ibu tidak pernah berhenti. Ketika seorang anak sudah lama disapih, sudah lupa bunyi detak irama cinta dari ‘alat musik’ jantung seorang ibu, si anak pun mulai tergerus kesadarannya akan cinta seorang ibu. Itu yang membuat seorang anak berani menantang ibunya. Semoga bukan karena tidak mampunya ibu membahasakan cinta pada seorang anak ketika si anak telah tumbuh. Karena bahasa cinta di setiap umur seorang anak itu berbeda-beda. Seorang ibu harus paham bahasa yang tepat untuk setiap usia.

Bahkan setelah remaja, seorang anak mulai memadu cinta ibunya. Tak masalah karena itu fitrah. Tapi saat nama lain mulai masuk ke hati, sering kali nama itu bersikap egois dengan berusaha menyingkirkan nama ibu yang sebelumnya ada di hati seorang anak. Tragis. Semoga bukan karena kedudukan cinta ibu di hati anak yang memang lemah. Seorang anak di dunia ini akan menemukan berbagai cinta, kalau ibu tidak mampu mengokohkan cintanya di hati seorang anak, maka cinta ibu itu rawan dikalahkan oleh cinta lain.

Bakti yang Agung Pada Manusia Penuh Cinta

Cinta. Menjadi alasan yang kuat kalau seorang muslim wajib menaati orang tuanya, terutama ibu. “Penuhilah hak ibu, sebab surga berada di bawah telapak kakinya.” (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Nasa’i; diriwayatkan juga oleh Bukhari, kita adab; Thabrani; dan Al-Hakim). Kalau Rasulullah mengumpamakan surga berada di bawah telapak kaki ibu, lalu apa yang ada di kening seorang ibu? Cinta di jantung seorang ibu, surga di telapak kakinya.

Seorang hamba merindukan keridhoan Tuhannya. Ia lakukan amal-amal jawarih (amal anggota tubuh) dan nawafil (sunnah). Ia tahan kantuk di sepertiga akhir malam, ia tahan lapar di siang hari, dan bergegas ia ke masjid untuk ihtiromil waqtih (menghormati waktu) sholat wajib. Sudah sampai kah pada ridho Tuhannya? "Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi,Hakim). Kalau ia belum melakukan birrul walidain (berbuat baik pada orang tua) sehingga orang tuanya ridho, amal-amal itu beserta kesusahannya belum membuat Allah swt ridho.

Keridhoan orang tua… padahal itu mudah. Karena cinta ibu pada anak tertanam kuat di jantungnya. Kesusahan mengandung, melahirkan, dan mengasuh adalah upaya menanam pondasi cinta sampai ke dasar jantung. Apa yang dapat meruntuhkan bangunan kokoh itu? Kedurhakaan!!

“Siapa yang membuat orang tuanya sedih, maka ia telah durhaka kepada keduanya.” (HR Bukhari)

Hamba itu ingin menyempurnakan usahanya. Ia tak mampu terus menerus sholat dan puasa sepanjang waktu. Tapi ada amal ruhbaniah/kependetaan (seperti pada hadits riwayat Ahmad) yang sebanding dengan terus menerus sholat dan puasa selama mengerjakan amal itu. Yaitu jihad. (HR Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah). Hamba itu bersemangat kepada amalan itu. Adakah halangan?

“Aku ingin berangkat perang, dan aku datang untuk meminta nasihat Anda.” Kata seorang pemuda kepada Rasulullah saw. Lalu Nabi bertanya, “Apakah Anda masih punya ibu?” Jawab pemuda itu, “Ya masih.” Nabi berkata “(Kalau begitu) pergilah, penuhilah kewajiban Anda untuk berbakti kepadanya, sebab surga itu berada di antara kedua kakinya.” (HR Hakim, shahih menurut beliau dan disepakati Adz-Dzahabi).

Ibu… wanita itu adalah manusia penuh cinta. Respon lah cinta itu karena surga dan keridhoan Allah bergantung dari bagaimana kita merespon cinta ibu.

Robirhamhuma kama robbayani sighoro. "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS 17:24)

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS 46:15)

Ungkapkan Cinta untuk Ibu Indonesia, Perempuan PKS Gelar Family Expo 2011

Jakarta – Sebagai upaya untuk menularkan semangat meningkatkan kualitas perempuan dan keluarga Indonesia pada masyarakat, Bidang Perempuan DPP PKS bersamaan dengan momentum Hari Ibu menggulirkan kegiatan nasional Hari Ibu dengan Tema “Cinta untuk Ibu Indonesia”.

Ketua DPP PKS Bidang Perempuan, Anis Byarwati mengatakan, untuk ungkapkan cinta bagi ibu, PKS menyelenggarakan Family Expo agar berbagai elemen masyarakat tergugah untuk mencintai ibu Indonesia dan bergerak dengan kearifannya masing-masing melakukan perbaikan sehingga kondisi perempuan dan ibu yang tidak menguntungkan dapat diminimalisir.

“Meningkatkan kualitas perempuan dan ibu Indonesia adalah tugas bersama antara pemerintah dan semua elemen masyarakat. Dengan demikian langkah bersama untuk menguraikan benang-benang persoalan perempuan dan ibu Indonesia menjadi hal penting,” ujar Anis di Jakarta, Rabu (21/12/2011).

Anis mengutip data sensus penduduk tahun 2010, lebih dari 118 juta atau 49 persen dari total penduduk Indonesia adalah perempuan. Jumlah yang tidak sedikit. Tapi sayangnya, menurut dia, potensi yang besar itu tidak dibarengi dengan kualitas yang mumpuni.

Dia mengungkapkan, tiga hal terkait indikator kesejahteraan perempuan, yaitu pendidikan, kesehatan, dan tingkat ekonomi masih rendah. Dari sisi pendidikan, masih ada sekitar 5 persen atau lebih dari 5 juta perempuan Indonesia yang buta aksara. Sedangkan dari sisi kesehatan, berbagai persoalan terkait kesehatan perempuan masih mengemuka, di antaranya ditunjukkan dengan masih tingginya Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia, yaitu 228 per 100 ribu kelahiran hidup. Angka ini tertinggi di Asia.

Sementara dari sisi ekonomi, rumah tangga miskin yang dikepalai oleh perempuan jumlahnya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Susenas tahun 2004 memperkirakan lebih dari 3 juta rumah tangga miskin dikepalai oleh perempuan. Bahkan Anis menambahkan, organisasi Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) juga menyebutkan bahwa 79 persen anggotanya hidup di bawah garis kemiskinan, dengan pengahasilan kurang dari USD 2 per hari.

“Oleh karena itu, perempuan PKS selama lebih dari 10 tahun telah bergerak di akar rumput melakukan upaya peningkatan kapasitas perempuan di bidang ekonomi, pendidikan, agama, dan kesehatan melalui Pos Wanita Keadilan atau Pos WK,” pungkasnya.

Lebih dari 5.800 titik Pos WK saat ini telah didirikan di 33 provinsi di Indonesia. Untuk memfokuskan fungsi Pos WK, sejak awal 2011 Pos WK mengerucutkan perannya pada dua bidang utama, yaitu pendidikan dan ekonomi melalui Pos WK Berbasis Pendidikan dan Pemberdayaan Ekonomi (Pos WK PPE).

Adapun kegiatan Pos WK PPE diantaranya adalah pengembangan taman bacaan, pelatihan baca tulis al-qur'an dan latin, pelatihan keterampilan yang layak jual, dan bantuan pemasaran produk. Dengan berpartisipasi dalam kegiatan Pos WK PPE, perempuan, ibu, dan keluarga Indonesia dapat lebih percaya diri karena potensi dalam dirinya dapat dikembangkan dan memberikan bekal untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Selain Pos WK PPE, Bidang Perempuan PKS juga menjawab persoalan perempuan dan keluarga Indonesia melalui program Rumah Keluarga Indonesia (RKI) yang merupakan upaya perempuan PKS mengokohkan dan meningkatkan kualitas keluarga Indonesia. Kegiatan RKI di antaranya adalah pelatihan pasca nikah untuk pasangan suami istri, konsultasi keluarga, pelatihan pra nikah, seminar ayah hebat, day care, on air Radio, dan pelatihan konselor keluarga. Saat ini, telah terbentuk 105 RKI di 33 provinsi. Dengan terlibat dalam kegiatan RKI, masyarakat mendapatkan dorongan baik moril, spiritual, maupun langkah-langkah aplikatif untuk mengokohkan keluarganya.

Sedangkan Family Expo 2011 akan diselenggarakan serentak di 33 Provinsi pada rentang 22 – 30 Desember 2011. Dalam kegiatan Family Expo ini akan dilakukan pameran produk Pos WK yang memiliki daya ungkit secara ekonomi, bazar produk muslimah, pemberian penghargaan kepada tokoh perempuan Indonesia, dan sarasehan ‘Cinta untuk Ibu Indonesia’. Pada Family Expo tersebut, masyarakat juga akan mengenal lebih jauh tentang RKI.

Sebagai titik utama penyelenggaraan Family Expo akan dipusatkan di Kota Tua Jakarta Barat, DKI Jakarta pada Sabtu, 24 Desember 2011. Pada titik utama tersebut akan hadir Pembina RKI Nasional, Luthfi Hasan Ishaq dan Pembina RKI DKI Jakarta, Triwisaksana. Selian itu jajaran pengurus DPP PKS dan DPW DKI Jakarta serta tokoh-tokoh lokal dan nasional rencananya akan hadir di acara tersebut. Selain pameran, acara juga diisi dengan hiburan untuk memaknai Hari Ibu dengan artis seperti Opick dengan tembang-tembangnya yang menyentuh dan Fadil, vokalis Grup Band Padi.

Triwisaksana menyatakan gelaran acara di Kota Tua hanyalah sebagian kecil dari aktivitas PKS untuk memberikan yang terbaik bagi kaum ibu. “PKS selalu berusaha menghadirkan Jakarta yang lebih nyaman untuk ditinggali masyarakatnya, terutama kaum perempuan karena mereka adalah sekolah yang utama untuk anak-anak. Dan merekalah yang paling berhak mendapatkan rasa nyaman yang pertama kali,” ujar pria yang akrab dipanggil Bang Sani ini.

Rabu, 21 Desember 2011

Ibu Pahlawan Rumah Tangga


Islamedia - Dewasa ini, bila Anda memiliki seorang anak gadis atau saudara perempuan yang beranjak dewasa, dan memasuki masa menikah, cobalah tanyakan kepada mereka, apakah opsi yang akan mereka pilih setelah mereka menikah nanti; Menjadi seorang wanita (istri) yang bekerja meniti karier atau menjadi seorang ibu rumah tangga? Kemungkinan besar opsi pertama akan menjadi pilihan favorit mereka sebab “profesi” ibu rumah tangga adalah sebuah status atau profesi yang kurang (atau bahkan tidak) menjanjikan secara materi dan kurang menantang di tengah tuntutan aktualisasi diri yang mereka butuhkan, apakah benar demikian?

Menjadi ibu rumah tangga? Ah, kalimat itu sering hanya sebagai kata-kata sinis bagi wanita-wanita sejawat jika menemui teman wanitanya yang tak meniti karier. Tapi jangan keliru, ibu rumah tangga tak seremeh yang Anda bayangkan. Ibu rumah tangga atau dikenal dengan istilah stay at home mom/homemaker pada hakikatnya justru adalah sebuah medan aktualisasi diri seorang wanita yang sungguh-sungguh membutuhkan ruh dedikasi yang cukup tinggi. Betapa tidak? Seorang wanita dituntut untuk menunaikan sekian banyak tugas dan pekerjaan domestik dalam rentang waktu yang tidak mengenal batas, bahkan bisa dikatakan bahwa seorang ibu rumah tangga jauh lebih tangguh dan super ketimbang suaminya.

Di sebuah situs media (reuters) disebutkan bahwa telah dilakukan survei kepada 18.000 ibu-ibu rumah tangga di Toronto, Kanada, mengenai daftar pekerjaan rumah tangga mereka sehari-hari seperti memasak, membersihkan rumah, merawat anak, mengurus keluarga, dan sebagainya. Maka sebuah perusahaan standar penggajian mendeskripsikan nilai, harga, gaji atas “pekerjaan” para kaum ibu ini bila mereka digaji atas pekerjaan mereka. Di Kanada, dari sekian banyak tugas dan pekerjaan domestik seorang ibu rumah tangga jika digaji maka pendapatan per bulannya mencapai $124.000, bila dikurskan rupiah dengan kurs Rp 9.000/$ = Rp 1. 116.000.000 per bulan (baca: satu milyar seratus enam belas juta rupiah). Subhanalloh!

Jika sekian gaji yang harus diperoleh oleh seorang ibu rumah tangga, maka hanya seorang suami yang CEO saja yang bisa memberinya uang bulanan atau minimal suaminya adalah seorang pemilik multi usaha yang sukses (konglomerat). Nominal tersebut tentu tidak bisa disebut sedikit dilihat dari standard negara manapun bahkan negara paling modern dan maju sekalipun.

Perhitungan pendapatan/gaji tersebut dikalkulasi berdasarkan jenis dan jumlah pekerjaan yang mereka lakukan, serta kuantitas waktu yang mereka habiskan sehari-hari, maka nominal Rp 1,116 M. adalah nominal yang layak bagi mereka.

“Adalah sebuah kesalahpahaman yang sangat jamak jika pilihan seorang wanita untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dianggap lebih mudah dan lebih ringan daripada menjadi seorang wanita karier (yang bekerja ) karena seorang ibu rumah tangga digambarkan hanya duduk manis di rumah, menonton TV sambil makan camilan,” kata Lena Boltos, seorang surveyor yang melakukan survey dan kalkulasi tersebut.

Ibu adalah Sekolah & Pahlawan

Bahkan pada hakikatnya, dalam kacamata Islam, seorang ibu rumah tangga bertanggung jawab penuh atas banyak hal, mulai dari permasalahan domestik rumah tangga, seperti memasak, bersih-bersih, mengatur anggaran pembelanjaan, lebih-lebih merawat, dan mendidik anak. Karena problematika anak-anak pada masa kini jauh lebih kompleks dari yang diperkirakan. Teknologi telah membuat segalanya menjadi mudah hingga sisi negatifnya pun bisa dengan mudah diserap oleh anak-anak kita. Memanglah benar apa yang dikatakan Baginda Rasulallah SAW “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya”. Oleh karenanya menjadi ibu di masa kini bukanlah sekedar ibu yang mengurus keseharian anak saja. Tapi haruslah ibu yang mengerti akan kondisi kekinian dan kedisinian. Hingga para ibu benar-benar menjalankan sebuah “bisnis” rumah tangga, jika arti kata “business’ dikembalikan kepada makna aslinya, (busy: sibuk).

Seorang penyair Arab mengatakan, “Al Ummu Madrosatul Ula, Idzaa A’dadtaha A’dadta Sya’ban Khoirul ‘Irq” (Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa berakar kebaikan).
Kalimat ini sering menjadi ikon dalam dunia pendidikan Islam. Maka bukanlah sebuah hal yang berlebihan bila Islam sangat mendorong kaum perempuan agar senantiasa meningkatkan kualitas pengetahuannya demi terciptanya suasana yang kondusif bagi keluarga yang membagi peran mereka sesuai kodrat alamiah yang telah Allah Ta’ala gariskan.

Karenanya, adalah sangat keliru, jika para ibu masih merasa tak berharga dan menganggap dirinya tak memiliki nilai ketika menjadi ibu rumah tangga dan sibuk mengurus anak-anak mereka di rumah. Padahal pada hakikatnya ibu juga bisa disebut sebagai pahlawan rumah tangga.

Wahai para ibu yang sibuk di rumah, Cheer up! Berbahagialah dan berbanggalah, ucapkan Alhamdulillah karena ternyata dan terbukti “karier” Anda sangat bernilai tinggi bila dibandingkan para wanita karier konvensional di mata dunia. Yakinlah, bahwa Anda jauh lebih bernilai dan ber”gaji” tinggi di mata Allah Ta’ala jika Anda niatkan pengabdian Anda semata-mata ikhlas karena Allah.

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Kaum wanita datang menghadap Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bertanya: “Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah perbuatan bagi kami yang dapat menyamai ’amal para mujahidin di jalan Allah?” Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Barangsiapa di antara kalian berdiam diri di rumahnya maka sesungguhnya ia telah menyamai ’amal para mujahidin di jalan Allah.” (HR Al-Bazzar)

Ellina Supendy
Ibu dari 5 Orang Anak

Di Lapas Sukamiskin,Netty Heryawan Semangati Para Napi

Islamedia - Istri Gubernur Jabar Netty Prasetiyani Heryawan mengunjungi Lapas Wanita Sukamiskin, Selasa (20/12/2011). Dalam kunjungannya itu Netty memberikan motivasi pada warga binaan lapas yang kebanyakan adalah karena kasus narkoba. Ia pun sempat membawakan lagu 'Matahariku' yang dipopulerkan Neno Warisman sebagai pembangkit motivasi.

"Ketika kita merasa tak berdaya, carilah matahari sebagai penerang dan pembangkit semangat kita," ujar Netty yang merupakan Ketua Tim Penggerak PKK Jabar dalam rilis yang diterima detikbandung.

Di hadapan 354 wanita yang sedang menjalani masa tahanan ini, Netty menganalogikan bahwa apa yang saat ini mereka alami ini sama halnya seperti anak kecil belajar jalan yang terjatuh.

"Yang penting adalah setelah terjatuh bagaimana tidak terjatuh kedua kalinya," kata Netty, yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jabar ini.

Kunjungan ini dilakukan dalam rangka menyambut Hari Ibu 2011 yang dirangkaikan dengan Training Motivasi 'Intra Personal Power' dengan pemberian bingkisan berupa buku-buku.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Pimpinan Wilayah Persaudaraan Muslimah (Salimah) Jabar dan disambut oleh Kepala Lapas Kristina Sri Widyaastuti. Dalam kesempatan itu disampaikan juga beberapa hal penting yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan dan status kesehatan warga penghuni lapas.

Didampingi Kepala Biro Pengembangan Sosial Nenny Kencanawati, Netty menganalogikan pentingnya peran ibu atau wanita dengan keadaan di sebuah rumah ketika ibu sakit, maka kacau balaulah seluruh tatanan kehidupan keseharian rumah.

"Kalau ibu sakit, seisi rumah ikut 'sakit'. Untuk itulah bagaimana ketika kita kembali ke masyarakat, kita menjadi kupu-kupu yang cantik." tutur Netty.

Netty pun berjanji akan kembali datang dengan membawa pengajaran keterampilan bagi para penghuni lapas. Peninjauan hasil karya keterampilan warga penghuni Lapas Wanita ini juga membuat Netty optimis akan kemampuan mereka bertahan di kehidupan nyata kelak. Menurut informasi, karya jadi mereka akan ikut dipamerkan dan dipasarkan di Pekan Kerajinan Jawa Barat.(dtk)

Rabu, 14 Desember 2011

Menkominfo : 5300 Desa Telah Terhubung Internet


Program pembangunan desa Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) akan selesai akhir Desember ini. Sementara itu, dari total 5.874 desa yang akan dibangun, sudah ada 5.300 desa yang selesai.

"Saat ini ada yang sudah dipasang tapi belum berjalan, karena masih menunggu Sistem Informasi Manajemen Pusat Layanan Internet Kecamatan (SIM PLIK) yang dibangun di Jakarta. Data bulan Oktober menujukkan dari 5.874 desa, sudah selesai 5300 desa. Saya akan cek lagi akhir Desember ini, target seluruhnya akan selesai akhir Desember," kata Tifatul, ketika ditemui di sela-sela peresmian desa informasi Janapriya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Senin (12/12/2011).

"Dari SIMPLIK yang dibangun di Jakarta, semua PLIK terkontrol mana yang mati, mana yang hidup, mana yang connect, mana yang tidak connect. Inilah yang mengatur semua lalu lintas, termasuk pengawasan," tambahnya.

Sedangkan untuk masalah opersional PLIK tersebut, Tifatul menerangkan biayanya sejauh ini masih ditangani oleh operator.

Pemerintah membangun kemudian disewa selama lima tahun, dan setelahnya akan dikelola oleh swasta. Dia mengharapkan seluruh kecamatan sudah masuk PLIK. Tahun ini ada tambahan Mobile Pusat Layanan Internet Kecamatan (MPLIK) sebanyak 1.908 unit.

Mengenai maslah perawatan infrastruktur PLIK dan MPLIK, dia mengatakan sejauh ini diserahkan kepada operator. Termasuk jika terjadi kerusakan.

Tujuan desa informasi ini, menurut Tifatul adalah agar masyarakat lebih mudah mengatasi kesenjangan informasi antara pusat dan daerah. Untuk tujuan tersebut, maka didirikanlah desa berdering, desa internet, PLIK, MPLIK, juga televisi masuk desa. [okezone/tyo]

Senin, 12 Desember 2011

TOP DPC Panyileukan

Alhamdulillah…..kegiatan Training Orientasi Partai atau yang disingkat dengan TOP DPC PKS Panyileukan telah terlaksana dengan sukses. TOP ini dilaksanakan pada hari Ahad, 11 Desember 2011 di RM & Café La Ponyo, dengan dihadiri 17 peserta dari kalangan kader dan calon kader DPC PKS Panyileukan. Rangkaian Acara TOP ini di buka oleh Dedi Hermawan (KaBid Kaderisasi), dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur an oleh Abu Fatih (sekretaris DPC). Materi yang disampaikan pada acara TOP terdiri dari 2 Sessi. Materi 1 mengenai Syumuliyatul Islam (Kesempurnaan Islam) yang disampaikan oleh Pepen Supendi, beliau memberikan pencerahan kepada para peserta bahwa Islam adalah sistem menyeluruh seluruh segi kehidupan. Karena Islam adalah Negara dan Tanah air, Akhlak dan Kekuatan, Kasih sayang dan Keadilan, Peradaban dan Undang-undang, Ilmu dan Peradilan, Materi dan Sumberdaya Alam, Penghasilan dan Kekayaan, Jihad dan Dakwah, Pasukan dan Pemikiran. Partai adalah kendaraan saja untuk beramal, sarana mengajak orang-orang menuju Allah SWT, karena kepada Allah lah kami menyeru.



Materi 2 mengenai Kepartaian disampaikan oleh Encang Sukirman (Ketua DPC); Apa itu PKS, Sejarah terbentuknya PKS, penanyangan film PKS dari sabang sampai Merauke, Kiprah PKS dan tidak kalah penting bagaimana kiprah DPC PKS di Panyileukan, siapa saja yang terlibat di DPC (pengenalan Struktur DPC), Program-program yang dilaksanakan untuk penguatan kader dan pengabdian kepada masyarakat. Sebagai penutup dari rangkaian acara TOP ini, pembacaan do’a dari salah satu peserta TOP oleh Ustadz Syarifudin.



Mudah-mudahan dengan terlaksananya kegiatan TOP ini semakin banyak barisan pejuang di DPC PKS Panyileukan untuk sama-sama mengajak masyarakat menuju kepada Allah SWT, semakin kuat Ukhuwah Islamiyah kader dan semakin terasa manfaat kehadiran kader khususnya di kecamatan Panyileukan. Allahu Akbar… (dh)

Jumat, 09 Desember 2011

Ketika Warga Tegal Mohon Maaf Kepada Fahri Hamzah

Islamedia - Ada hal menarik dalam Bedah Editorial di stasiun televisi metrotv Jum'at (9/12) pagi, salah seorang penelpon dengan nama Slamet yang berasal dari Tegal Jawa Tengah tiba-tiba melontarkan permintaan maafnya kepada Anggota Dewan dari PKS Fachri Hamzah.

Munculnya permintaan maaf ini diawali saat penelpon memberikan komentar tentang tema yang dibawakan dengan tema "Membonsai Kasus Nazaruddin", terlihat kasus mengalami kemandekan peradilan. Fakta inilah yang membuat Pa Slamet memberikan komentarnya bahwa kinerja KPK gagal menangani kasu-kasus besar. Penangangan kasus besar juga tidak lewat dari komentarnya, seperti kasus Bank Century dan Pajak Gayus.

"Dulu saya sempat Suudzon dengan Pa Fachri karena tiba-tiba menginginkan pembubaran KPK, namun alhamdulillah kini saya sudah memahami dan akhirnya saya menganggap wajar apabila wacana pembubaran KPK muncul, karena melihat kinerja KPK yang tidak bisa berani tegas menangai kasus-kasus besar" demikian petikan ungkapan Pa Slamet diujung Telepon. Ungkapan permintaan maaf ini sekaligus bisa jadi mewakili suara hati seluruh warga Indonesia yang pernah sempat berpandangan negatif terhadap pandangan Fachri Hamzah.

Lebih lanjut Pa Slamet berharap pimpinan KPK yang baru tegas dalam menangi kasus-kasus besar di negeri ini, sehingga publik Indonesia percaya bahwa KPK layak untuk dilanjutkan.[ismed/metro]

Pilar - Pilar Kebangkitan Umat

dakwatuna.com - Suatu pilar kebangkitan terbesar sejarah manusia di muka bumi adalah dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dakwah ini merupakan babak terakhir dalam serangkaian perjuangan panjang dakwah yang dipimpin oleh beberapa orang Rasul sebelum Muhammad SAW. Islam sesungguhnya sebuah proklamasi pembebasan manusia bagi seluruh manusia di penjuru bumi. Selama sejarah panjang Islam berada dalam kepemimpinan para pejuang Islam hingga pada kepemimpinan Turki Utsmani, Islam mengalami masa kejayaan dan kegemilangan dalam penyebarluasan dakwah. Seluruh sistem dunia mengikuti manhaj Islam dalam mekanisme kehidupan dunia.
Namun tidak perlu dinafikan bahwa eksistensi umat Islam telah bercerai berai sejak beberapa abad lalu. Sejak pemerintahan Turki Utsmani pada tahun 1924 M. Sejak kepemimpinan kedigdayaan Barat menunjukkan kembali kekuatannya sebagai strategi pemanfaatan situasi Islam yang sedang turun. Dari sinilah awal perjuangan penuh umat Islam. Sejarah pun mengukir peran para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar Ikhlas kepadaNya, “Al-Ikhwanul Muslimin”. Dalam pergerakannya, secara tidak langsung membangkitkan kembali Islam untuk lebih melegenda di kehidupan. Peran mereka inilah sebagai pilar awal kebangkitan umat Islam setelah rampungnya pemerintahan Turki Utsmani.
Umat Islam adalah sekelompok manusia yang kehidupan, konsepsi, sikap, tatanan, nilai-nilai dan pertimbangannya, terpancar dari manhaj Islam. Manhaj yang berideologi Islam. Suatu manhaj hakiki yang bersumber langsung dari Pencipta. Manhaj atas dasar Al-Quran dan Al-Hadits. Dan oleh sebab itulah, Umat Islam akan tetap mampu bertahan melawan musuh -musuhnya dalam menegakkan panji – panji Agama Allah SWT.
Buku yang berjudul Pilar – Pilar Kebangkitan Umat yang ditulis oleh Abdul Hamid al-Ghazali menekankan pada Al-Masyru’ al-Islami (proyek keislaman atau islamisasi), Al-Nahdlah al-Ummah (kebangkitan umat dari keterpurukan) dan Assasiyat (prinsip-prinsip dasar atas fondasi pemikiran, bukan pilar, secara harfiyah) atas perjuangan membangun kembali umat yang mungkin masih tertidur hingga kesadaran diri untuk segera bangkit menghadapi tantangan zaman pun masih relatif kecil.
Secara konsep dasar, kita temukan kaidah – kaidah dalam eksekusi pelaksanaan suatu gerakan. Gerakan yang memberikan pengaruh besar. Hingga gerakan tersebut melingkupi institusional negara. Suatu gerakan pada hakikatnya memiliki konsepsi, aturan main dan sistem, yang tentu saja semuanya berpatokan pada kaidah atau manhaj Islam. Konsep-konsep dasar yang dimaksud adalah mengenai Pembaharuan (ishlah), suatu perubahan menuju kemajuan secara komprehensif dan terintegral atas aspek kehidupan; Metodologi riset (manhaj qira’ah) yang meliputi konten analisis, hermeunetika (tafsir atas teks), semiotika (pemaknaan sesuai konteks zaman dan lokasi); Dakwah sebagai proyek kebangkitan, bukan merupakan pekerjaan individual yang berjangka pendek dan amatiran, namun dakwah adalah pekerjaan kolektif, suatu pekerjaan yang tersusun rapi atas perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasi, berjangka panjang (dengan tujuan membangun suatu peradaban baru) dan dilakukan secara profesional oleh setiap kader pengemban dakwah dan rekonstruksi negara ideal (ishlah ad-daulah/al-hukumah), suatu pemikiran, perjuangan, kebijakan, dan dimensi peradaban.
Suatu konsep dasar yang memiliki nilai yang besar, harusnya berstrategi (bermetodologi) yang baik dalam pelaksanaannya. Untuk itu harus ada referensi nyata bagaimana dakwah itu bermain sesuai hakikatnya. Imam Syahid Hasan Al-Banna telah merekonstruksi 4 analisis yang dapat dijadikan metodologi dalam memainkan peran dakwah, yang meliputi Analisis sejarah, Analisis realitas, Kaidah umum dan Prediksi masa depan. Metodologi atas Analisis Sejarah mencakup ruang lingkup Sejarah Islam (tujuh periode: deklarasi, daulah, dekadensi, pergulatan politik, pergulatan sosial, hegemoni Barat, kebangkitan), Sejarah manusia (Barat dan Timur), Sejarah gerakan pembaruan (Khulafa al-Rasyidah, Abbasiyah, Ayyubiyah, Saudiyah, Revolusi Jerman). Sedangkan Metodologi atas Analisis Realitas mencakup ruang Keharusan analisis realitas (fiqhul waqi’), Analisis kualitatif (serangan asing, penyakit umat, agenda permasalahan), dan Analisis kuantitatif (data demografis, geografis, pendidikan, kesehatan, kriminalitas). Kemudian untuk Metodologi Kaidah Umum, Imam Hasan Al-Banna mengaitkannya dengan Fikrah dasar, Kekuatan motivasi, Perubahan diri, Titik awal pergerakan, Keberhasilan pemikiran, Penyiapan kader, Tuntutan kebangkitan mendasar, Standar aktivitas dakwah, Pergulatan manusia, Prediksi dan peluang, Pergiliran peradaban, dan Tujuh pilar kebangkitan. Lalu, untuk metodologi Prediksi Masa Depan, ia mencakup Perspektif sosial (kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, mimpi hari ini adalah kenyataan masa depan), Perspektif sejarah (kebangkitan setelah masa kemunduran), Perspektif logika (jalan panjang menuju kebangkitan, menunaikan kewajiban untuk mendapat pahala akhirat dan manfaat duniawi), dan Perspektif agama (janji kemenangan dari Allah).
Yang menarik dari metodologi Kaidah Umum adalah mengenai Fikrah Dasar dan Kekuatan Motivasi. Imam Hasan Al-Banna pernah berkata: “Ikhwanul Muslimin yakin sepenuhnya bahwa ketika Allah SWT menurunkan Al-Quran, menyuruh hamba-hambaNya mengikuti Muhammad SAW dan meridhai Islam sebagai agama bagi mereka, sesungguhnya ia telah meletakkan dalam agama ini seluruh dasar yang mutlak dibutuhkan bagi kehidupan, kebangkitan dan kesejahteraan umat manusia”. Perkataan ini dapat menjadi fikrah dasar mengapa kita harus tetap mengambil peran dalam menciptakan pilar – pilar kebangkitan. Yang kedua terkait dengan kekuatan motivasi. Dalam hal ini Imam Syahid Hasan Al-Banna juga mengatakan. “Kebanyakan manusia melihat gerakan dakwah dari segi lahiriah dan bentuk formalnya saja. Mereka tidak melihat motivasi dasar dan inspirasi spiritual yang sebenarnya merupakan modal dasar bagi terciptanya tujuan dan teraihnya kemenangan. Ini adalah sebuah hakikat yang tidak bisa dibantah kecuali oleh mereka yang jauh dari studi dakwah sehingga tidak memahami rahasia-rahasianya. Sesungguhnya di balik fenomena-fenomena yang tampak pada setiap aktivitas dakwah, terdapat semangat yang menjadi motor penggerak serta kekuatan batin yang menggerakkan, mengontrol dan memberikan motivasi. Mustahil suatu umat dapat bangkit tanpa memiliki kesadaran yang hakiki dalam jiwa, ruh dan perasaan mereka. ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri’ (Ar- Ra’d:11).”
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hal terpenting dalam sebuah kerja dakwah yang harus pertama kali kita perhatikan dan kita jadikan sebagai pemacu pertumbuhan, keberadaan, dan penyebaran dakwah adalah kebangkitan spiritual ini. Karenanya, yang pertama kali kita inginkan adalah kebangkitan ruhani, hidupnya hati, serta kesadaran penuh yang ada dalam jiwa dan perasaan. Oleh karena itu, dalam membicarakan dakwah ini, kami lebih menekankan pada pemberian motivasi dan pembinaan jiwa daripada perhatian terhadap aspek-aspek operasional yang beragam.
Tentu saja dakwah menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat serta tangguh, hati-hati yang segar serta memiliki semangat yang berkobar, perasaan-perasaan yang memiliki ghirah serta selalu menggelora dan ruh-ruh yang bersemangat, elegan, selalu optimis serta merindukan nilai-nilai luhur, tujuan -tujuan mulia serta mau bekerja keras untuk menggapainya. Umat Islam harus menentukan tujuan-tujuan dan nilai-nilai luhur tersebut, mengendalikan perasaan dan emosi, serta memfokuskan perhatian pada hal-hal tersebut hingga ia menjadi sebuah keyakinan mantap, yang tidak tercampuri oleh keraguan sedikit pun. Tanpa pembatasan, pengendalian, dan pemfokusan tersebut, sebuah kesadaran dan kebangkitan hanya akan menjadi seperti lilin kecil di tengah gulita sahara, nyalanya sangat redup dan panasnya tidak terasa.
Sejalan dengan keberadaan dakwah yang komprehensif, maka manhaj dakwah pun harus menegara. Sistemnya pun harus mampu merekonstruksi Negara yang merupakan suatu proyek kebangkitan umat. Ada 5 peran dakwah dalam merekonstruksi aksi institusional, yang meliputi pemikiran, perjuangan, program, kebijakan, dan dimensi peradaban. Rekonstruksi Negara terhadap Pemikiran meliputi titik tolak (integralitas Islam, negara cermin ideologi, hak umat, perjuangan konstitusional dan pemerintahan bagi dari rukun sistem Islam) dan konsep (arabisme, patriotisme, nasionalisme dan internasionalisme). Sedangkan rekonstruksi terhadap peran Perjuangan mencakup target politik (pembebasan negeri, persatuan negeri, Islam/Kawasan), strategi (informasi, dialog elite, komite UU, rekomendasi pemerintah, pernyataan politik, legislatif/kepartaian, tuntutan politik, dan aliansi politik), tahapan (takrif, takwin, tanfidz), dan sikap (pemerintahan, UU, Hukum, kepartaian, minoritas, perempuan, demokrasi, persatuan, HAM). Selanjutnya, rekonstruksi yang ketiga fokus pada Pemrograman Pilar Dakwah, yakni pemrograman atas reformasi sosial, reformasi ekonomi, dan reformasi politik. Dan mengenai rekonstruksi negara atas Kebijakan terkait pada kebijakan dalam dan luar negeri. Maka, rekonstruksi negara yang terakhir adalah mengenai Dimensi Peradaban yang meliputi konsep peradaban (syahadah dan hadlarah), eksistensi umat (syarat kebangkitan, konsep khilafah, tata dunia baru) dan kepemimpinan dunia (realisasi, benturan peradaban).
Suatu pilar kebangkitan membutuhkan suatu magnet yang dapat menimbulkan aksi tarik-menarik bagi aktornya. Aksi tarik menarik ini menunjukkan ketepatan medan magnet dengan kapasitas pemainnya. Untuk mencapai kebangkitan dan kejayaan umat, kita harus memiliki medan tempat untuk berjuang, tempat perlindungan, dan tempat pentarbiyahan. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan kita untuk mengelola sumber alam secara benar dan baik dan berlandaskan kepada kemaslahatan. Maka, Selamat datang Pilar Kebangkitan Umat!

Senin, 05 Desember 2011

Doa Rabithah : Doa di Sepanjang Mihwar Dakwah

Oleh : Cahyadi Takariawan
Siang tadi (Sabtu 3 Desember 2011), saya mengikuti acara Tatsqif Kader Dakwah di Markaz Dakwah Gambiran, Yogyakarta. Ustadz Tulus Musthafa menyampaikan tausiyah yang sangat mengena. Penjagaan terhadap kader pada era dakwah di ranah publik harus semakin dikuatkan. Sarananya, kata beliau, telah terangkum dalam Doa Rabithah yang rutin kita baca setiap pagi dan petang.

Sembari mengikuti tausiyah beliau, ingatan saya menerawang jauh ke belakang.....

Suatu masa, di era 1980-an.....

Tigapuluh tahun yang lalu, beberapa orang aktivis dakwah, tidak banyak, hanya beberapa orang saja, duduk melingkar dalam sebuah majelis. Di ruangan yang sempit, diterangi lampu temaram, duduk bersila di atas tikar tua, khusyu’, khidmat, tawadhu’.

Tidak banyak, hanya beberapa orang saja. Berbincang membelah kesunyian, pelan-pelan, tidak berisik. Semua datang dengan berjalan kaki, naik sepeda tua, atau naik kendaraan umum saja. Pakaian mereka sangat sederhana, apa adanya, bersahaja. Hati mereka sangat mulia.

Duapuluh tahun yang lalu, beberapa orang itu bercita-cita tentang kejayaan sebuah peradaban. Cita-cita besar, mengubah keadaan, menciptakan peradaban mulia. Wajah mereka tampak teduh, air wudhu telah membersihkan jiwa dan dada mereka. Tidak ada yang berbicara tentang fasilitas, materi, jabatan dan kekuasaan.

Mengakhiri majelis, mereka menundukkan wajah. Tunduk dalam kekhusyukan, larut dalam kehangatan persaudaraan, hanyut dalam samudera kecintaah. Doa Rabithah mereka lantunkan. Syahdu, menusuk kalbu.

Air mata berlinang, bercucuran. Akankah segelintir orang ini akan bisa mengubah keadaan ? Akan beberapa orang ini akan mampu menciptakan perubahan ? Hanya Allah yang mengetahui jawaban semua pertanyaan. Doa telah dimunajatkan, dari hati yang paling dalam :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Sejuk, menyusup sampai ke tulang, mengalir dalam darah. Meresap hingga ke sumsum dan seluruh sendi-sendi tubuh. Merekapun berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat. Masing-masing meninggalkan ruangan. Satu per satu. Hening, tenang. Tidak ada kegaduhan dan kebisingan.

Masa bergerak, ke era 1990-an

Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlahnya, berkumpul dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Ruang itu milik sebuah Yayasan, yang disewa untuk kantor dan tempat beraktivitas. Mampu menampung hingga seratus orang. Semua duduk lesehan, di atas karpet. Lampu cukup terang untuk memberikan kecerahan ruang.

Sebuah Daurah Tarqiyah dilakukan. Para muwajih silih berganti datang memberikan arahan. Taujih para masyayikh di seputar urgensi bersosialisasi ke tengah kehidupan masyarakat, berinteraksi dengan tokoh-tokoh publik, memperluas jaringan kemasyarakatan dengan pendekatan personal dan kelembagaan. Semua aktivis diarahkan untuk membuka diri dan berkiprah secara luas di tengah masyarakat. Membangun jaringan sosial dan membentuk ketokohan sosial.

Sekumpulan aktivis dakwah, jumlahnya cukup banyak, datang dengan mengendarai sepeda motor, beberapa tampak mengendarai mobil Carry dan Kijang tua. Wajah mereka bersih, bersinar. Penampilan mereka tampak intelek, namun bersahaja. Sebagian berbaju batik, sebagian lainnya berpenampilan rapi dengan setelan kemeja dan celana yang serasi.

Acara berlangsung khidmat dan sederhana. Namun sangat sarat muatan makna. Sebuah keyakinan semakin terhujamkan dalam jiwa, bahwa kemenangan dekat waktunya. Kader dakwah terus bertambah, aktivitas dakwah semakin melimpah ruah. Semua optimis dengan perkembangan dakwah.

Usai acara ditutup dengan doa. Hati mereka khusyu’, jiwa mereka tawadhu’. Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlah mereka, menengadahkan tangan, sepenuh harapan dan keyakinan. Munajat sepenuh kesadaran :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Mereka berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat dan hangat. Hati mereka tulus, bekerja di jalan kebenaran, pasti Allah akan memberikan jalan kemudahan. Doa Rabithah mengikat hati-hati mereka, semakin kuat, semakin erat.

Perlahan mereka meninggalkan ruangan, menuju tempat beraktivitas masing-masing. Khidmat, hening, namun tetap terpancar wajah yang cerah dan harapan yang terang benderang.

Masa terus mengalir, sampai ke era 2000-an....

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Memenuhi ruangan ber-AC, sebuah gedung pertemuan yang disewa untuk kegiatan. Diterangi lampu terang benderang, dengan sound system yang memadai, dan tata ruang yang tampak formal namun indah. Tampak bendera berkibar dimana-mana, dan sejumlah spanduk ucapan selamat datang kepada peserta dipasang indah di berbagai ruas jalan hingga memasuki ruangan.

Sebuah kegiatan koordinasi digelar untuk mempersiapkan perhelatan politik tingkat nasional. Para aktivis datang dengan sepeda motor dan mobil-mobil yang tampak memadati tempat parkir. Mereka hadir dengan mengenakan kostum yang seragam, bertuliskan kalimat dan bergambarkan lambang partai. Di depan ruang, tampak beberapa aktivis berseragam khas, menjaga keamanan acara.

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Mereka duduk berkursi, tampak rapi. Pakaian mereka formal dan bersih, sebagian tampak mengenakan jas dan dasi, bersepatu hitam mengkilap. Sebagian datang dengan protokoler, karena konsekuensi sebagai pejabat publik. Ada pengawal, ada ajudan, ada sopir, dan mobil dinas.

Para qiyadah hadir memberikan arahan dan taklimat, sesekali waktu disambut gegap gempita pekik takbir membahana. Rencana Strategis (Renstra) dicanangkan, program kerja digariskan, rancangan kegiatan telah diputuskan, para kader siap melaksanakan seluruh keputusan. Acara berlangsung meriah, diselingi hiburan grup nasyid yang tampil dengan penuh semangat.

Acara selesai, diakhiri dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, memimpin doa, munajat kepada Allah dengan kerendahan hati dan sepenuh keyakinan akan dikabulkan. Doa pun diumandangkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Acara resmi ditutup. Para aktivis berdiri, berjabat tangan, meninggalkan ruangan dengan khidmat. Terdengar kebisingan suara sepeda motor dan mobil yang mesinnya dihidupkan. Sepeninggal mereka, tampak panitia sibuk membereskan ruangan.

Masa cepat bergulir, hingga di era 2010-an.....

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Harus menyediakan ruangan yang sangat besar untuk menampung jumlah tersebut. Ruang kantor Yayasan sudah tidak bisa menampung, ruang pertemuan yang sepuluh tahun lalu digunakan, sekarang sudah tampak terlampau kecil. Harus menyewa gedung pertemuan yang memiliki hall besar agar menampung antusias para aktivis dari berbagai daerah untuk datang.

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Mereka datang naik pesawat, berasal dari Aceh hingga Papua. Berseragam rapi, semua mengenakan atribut dan jas berlambang partai. Peserta yang datang dari wilayah setempat datang dengan mobil atau taksi. Semua tampak rapi dan bersih.

Ruangan yang besar itu penuh diisi para aktivis dakwah yang datang dari seluruh pelosok wilayah. Dakwah telah tersebar hingga ke seluruh penjuru tanah air. Sebagian telah menempati posisi strategis sebagai pejabat pemerintahan, baik di pusat maupun daerah, baik di eksekutif maupun legislatif. Hadir dengan sepenuh keyakinan dan harapan akan adanya perubahan menuju pencerahan.

Berbagai problem dan persoalan diutarakan. Berbagai ketidakpuasan disampaikan. Banyak kritik dilontarkan. Banyak saran dan masukan diungkapkan. Semua berbicara, mengevaluasi diri, mengaca kelemahan dan kekurangan, memetakan arah tujuan, namun tetap dalam bingkai kecintaan dan kasih sayang. Para aktivis sadar bahwa masih sangat banyak kekurangan dan kelemahan yang harus terus menerus diperbaiki dan dikuatkan. Semua bertekad untuk terus berusaha menyempurnakan.

Sang Qiyadah memberikan taujih dengan sepenuh kehadiran jiwa, “Nabi telah berpesan, bahwa sesungguhnya kalian dimenangkan karena orang-orang lemah di antara kalian. Maka tugas kita adalah selalu memberikan perhatian terhadap masyarakat, terlebih lagi kelompok dhuafa. Termasuk dhuafa di antara kader dakwah. Jangan pernah melupakan kerja para kader yang telah berjuang di pelosok-pelosok daerah. Lantaran kerja merekalah kita diberikan kemenangan oleh Allah”.

Lugas, tuntas. Arahan telah sangat jelas. Acara pun berakhir, ditutup dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, mengajak semua peserta menghadirkan hati dan jiwa, dengan khusyu’ munajat kepadaNya agar senantiasa diberikan pertolongan dan kekuatan. Doapun dilantunkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Ternyata, doa Rabithah telah menghiasi perjalanan panjang kami. Bergerak melintasi zaman, dengan beragam tantangan, dengan aneka persoalan. Para aktivis selalu setia dengan arah tujuan, bergerak pasti menuju ridha Ilahi. Doa Rabithah tidak pernah lupa dimunajatkan, di waktu pagi dan malam hari.

Kesetiaan telah teruji pada garis waktu yang terus bergerak. Lintasan mihwar membawa para aktivis menuju kesadaran, bahwa kejayaan adalah keniscayaan, selama isi Doa Rabithah diamalkan, bukan sekedar diucapkan.....

Kabulkan permohonan kami, Ya Allah....


Sumber:pkspiyungan.blogspot.com

Minggu, 04 Desember 2011

Temu Pengurus DPC Panyileukan

Ahad, 4 Desember 2011 bertempat di Bumi Panyileukan..untuk lebih mengokohkan para pengurus dalam mengemban amanah dakwah kedepannya, DPC Panyileukan menyelenggarakan temu kader pengurus harian DPC dan DPRa, kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahim dan menjaring informasi dari masing - masing DPRa yang ada. Acara yang diawali dengan tilawah oleh Akh.Ismail selaku Sekum DPC Panyileukan.

Ketua Kaderisasi DPC PAnyileukan, Ust. Dedi Hermawan memberikan paparan tentang program - program kaderisasi DPC Panyileukan.Diantaranya program TOP ( Training Orientasi Partai ) yang insyaAllah akan dilaksanakan pada hari Ahad 11 Desember 2011

Acara ini pun bertambah semangat dengan kehadiran Ust. Haru Suhandaru salah satu Aleg DPRD Kota Bandung yang memberikan taujih kepada seluruh pengurus DPC - DPRa se-Panyileukan. Salah satu taujih beliau diantaranya pentingnya mengokohkan soliditas kader,terutama memasuki mihwar yang sedang kita jalani sekarang. Selain soliditas, kesabaran dalam menghadapi kemaksiatan yang ada serta dalam menjalani tantangan hidup perlu terus kita tingkatkan dan menjadikan sabar serta sholat sebagai penolong dalam mengarungi kehidupan ini.

Para peserta sedang menyimak tausiah dari Ust. Haru Suhandaru


Tepat pukul 11.30 rangkaian acara pun usai ditandai dengan bersama memanjatkan do'a agar dikuatkan dalam mengarungi amanah dakwah ini yang dipimpin oleh Ust.Suparno.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Panyileukan